 |
| Kamis, 01 Januari 2009 |
| Mengapa Musso Pulang |
Susanto Pudjomartono Wartawan senior, mantan Duta Besar Indonesia di Rusia PERISTIWA Madiun, 19 September 1948, masih menyisakan sejumlah tanda tanya. Hingga kini masih terjadi pro-kontra tentang hakikat peristiwa itu. Partai Komunis Indonesia (PKI) menyatakan itu bukan pemberontakan atau kudeta, tetapi terpancing manuver Amerika Serikat yang ingin menghancurkan gerakan komunis di Indonesia. Pemerintah secara resmi menganggapnya pemberontakan, karena para pelakunya menyatakan mengganti pemerintah nasional di bawah Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta serta membentuk pemerintahan front nasional di bawah kepemimpinan PKI. Pemicu utama pemberontakan itu adalah kedatangan Musso, tokoh komunis yang tinggal di Moskow sejak 1920-an, pada awal Agustus 1948. Mengapa Musso, setelah berpuluh tahun bermukim di Rusia, pulang ke Indonesia? Sejumlah penulis menerka-nerka maksud kedatangan Musso. Penulis Amerika, A.C. Brackman, dalam bukunya Indonesian Communism: A History, dan Ruth McVey, dalam bukunya The Soviet View of the Indonesian Revolution, menuduh Musso kembali ke Indonesia atas perintah Rusia dengan sebuah rencana yang disusun di Moskow. Dari Indonesia, Soe Hok Gie (almarhum), dalam skripsinya yang dibukukan, Orang-orang di Persimpangan Jalan (1997), menyimpulkan Musso menuliskan rencananya di luar negeri dan datang dengan sebuah konsep yang tegas. Menurut Himawan Soetanto, mantan Kepala Staf Umum ABRI, dalam bukunya Madiun, dari Republik ke Republik (2006), ”Maksud kedatangannya (Musso) di Indonesia tidak dapat diketahui, perintah atau kekuasaan dari Moskow, tetapi menjadi jelas kedatangannya membawa serta ’garis komunis internasional ortodoks’, garis keras Zhdanov.” Beruntung sejarawan Rusia, Larissa Efimova, meneliti dokumen dari Central Committee of the All Union Communist Party (Bolshevik)—CCAUCP (B)—yang telah dideklasifikasi, khususnya arsip dari Departemen Luar Negeri Komite Sentral AUCP. Efimova menuliskan hasil risetnya dalam berkala Indonesia and the Malay World, Juli 2003, dengan judul ”Who Gave Instructions to the Indonesian Communist Leader Musso in 1948?” Dari berbagai dokumen itu, Efimova, yang mengajar di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO), tidak bisa melacak adanya ”instruksi Moskow” pada Musso. Namun dari situ bisa dilacak sumber dan gagasan yang kemudian dikembangkan Musso menjadi konsep ”Jalan Baru untuk Republik Indonesia”. Musso ke Indonesia pada 11 Agustus 1948, menyamar sebagai sekretaris Soeripno, Kepala Perwakilan RI di Praha. Sepekan setelah kembali ke Indonesia, Musso bertemu dengan Presiden Soekarno, yang telah dikenalnya semasa Soekarno muda tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Ketika Bung Karno meminta Musso membantu perjuangan Indonesia, Musso menjawab, ”Ik kom hier om orde te scheppen” (”Saya datang ke sini untuk menertibkan keadaan”). Suasana Indonesia waktu itu, tiga tahun setelah merdeka, sangat kacau. Konflik terjadi di antara berbagai kelompok dan partai yang berebut kekuasaan, terutama antara golongan Islam, nasionalis, dan kiri. Masing-masing kelompok mempunyai kekuatan bersenjata (laskar), TNI juga disusupi berbagai macam ideologi. Silih berganti kabinet jatuh, dan perdana menteri berganti. Berbagai masalah tambah meruwetkan keadaan, antara lain saling tuduh antara mereka yang dianggap kolaborator Jepang dan Belanda, rencana pemerintah mengurangi jumlah tentara (reorganisasi dan rasionalisasi), serta munculnya Tan Malaka yang memimpin Front Demokrasi Rakyat (FDR). Berbagai kelompok itu bertikai dalam menyikapi Perjanjian Renville dan menghadapi Belanda yang mau menjajah lagi. Masalah lain, kehadiran pasukan Siliwangi, yang dipaksa mundur dari Jawa Barat ke Jawa Tengah, tak bisa diterima sebagian orang, sehingga sering terjadi penculikan dan konflik bersenjata. Setiba di Indonesia, Musso, yang diakui mewakili Kominform (nama semula Komintern—Komunis Internasional), segera mengkonsolidasi organisasi gerakan komunis yang dinilai kurang radikal. Dalam tiga pekan ia berhasil menyatukan tiga partai kiri: Partai Buruh, Partai Sosialis, dan Partai Komunis Indonesia, menjadi satu PKI. Sejumlah organisasi kiri resmi bergabung, misalnya SOBSI (buruh) dan BTI (petani). Dalam Politbiro PKI yang baru Musso menjabat sekretaris jenderal. Dalam semalam, anggota PKI, yang semula 3.000 orang, menjadi 30 ribu orang. PKI juga memiliki kekuatan tempur yang kuat, terutama di Pesindo, sayap pemuda PKI. Beberapa tokoh secara terbuka mengakui mereka anggota PKI bawah tanah, seperti Amir Sjarifoeddin dan Tan Ling Djie. Penyatuan ketiga partai itu satu dari tiga konsep Musso yang disebut ”Jalan Baru untuk Republik Indonesia” tadi. Dua konsep Musso yang lain: perlu dibentuknya sebuah pemerintahan front nasional serta penyesuaian garis partai dengan garis keras Komintern, ”doktrin Zhdanov”. Pengaruh Musso sangat kuat, dan konsepnya didukung seluruh jajaran PKI. Rupanya, untuk melaksanakan konsep itulah kelompok muda PKI di bawah pimpinan Ketua Pesindo, Soemarsono, pada 19 September 1948 merebut kekuasaan di Madiun dan mendeklarasikan terbentuknya sebuah pemerintahan front nasional yang dikuasai PKI. Pemerintahan di beberapa kota lain, seperti Ponorogo, Magetan, dan Pacitan, juga direbut PKI. Dalam perebutan itu, mereka yang dianggap lawan PKI, khususnya pejabat pemerintah, pemimpin nasionalis, dan Masyumi, dibantai. Musso dan sejumlah pemimpin PKI, yang berada di luar kota, buru-buru bergabung dengan Soemarsono di Madiun, dan bendera merah PKI pun dikibarkan di daerah-daerah yang dikuasai PKI; Purwodadi, Blora, Cepu, Pacitan, dan Trenggalek. Reaksi pemerintah nasional cepat dan tegas. Pada 19 September malam, Presiden Soekarno berpidato di RRI Yogyakarta, mengungkapkan terjadinya kup di Madiun, yang bermaksud mendirikan sebuah pemerintahan Soviet di bawah pimpinan Musso, awal dari usaha merebut pemerintahan. Soekarno menawari rakyat untuk memilih: ”Ikut Musso dan PKI-nya atau ikut Soekarno-Hatta.” Panglima TNI Jenderal Soedirman diperintahkan menumpas pemberontakan itu. Pasukan Siliwangi yang melaksanakan tugas tersebut. Satu setengah jam setelah Presiden Soekarno berpidato, Musso membalas dengan berpidato lewat Radio Gelora Pemuda Madiun, mengajak rakyat melawan Soekarno-Hatta, ”budak imperialis”. Kejadian di Madiun, kata Musso, adalah sinyal bagi rakyat untuk merebut kekuasaan negara. Penumpasan pemberontakan PKI oleh pasukan Siliwangi tidak berjalan lama. Dalam sebelas hari Madiun dapat direbut kembali, dan dalam tiga bulan seluruh kekuatan pemberontak ditumpas. Musso tertembak mati, sedangkan Amir Sjarifoeddin dan sebelas pemimpin PKI lainnya ditangkap dan dihukum mati di Karanganyar, Surakarta, atas perintah Gubernur Militer Surakarta Kolonel Gatot Soebroto. Sejarawan Australia, M.C. Ricklefs, memperkirakan setidaknya 8.000 orang tewas akibat pemberontakan Madiun. Apakah konsep Musso itu instruksi Moskow? Efimova menemukan beberapa hal penting dari arsip yang diteliti. Salah satu tugas Musso di Moskow, ternyata, membuat laporan tentang perkembangan gerakan komunis di Indonesia. Pada 23 Januari 1948, Musso dalam ”Catatan tentang Situasi di Indonesia” melaporkan kepada Komite Sentral AUCP (B) bahwa posisi kelompok sosialis dalam pemerintahan di Indonesia makin kuat. Kelompok sosialis sengaja tidak menonjolkan diri untuk menghindari serangan dari ”partai-partai reaksioner dan kelompok agama” yang anti-Soviet dan antikomunis. Hanya beberapa pemimpin Partai Sosialis dan Partai Buruh, seperti Amir Sjarifoeddin, Tamzil, dan Setiadjit, komunis yang mengaku sosialis yang ditampilkan ke depan. Musso juga meyakinkan pemimpin Soviet, secara luas rakyat Indonesia bersimpati kepada Uni Soviet, bukan mereka yang komunis saja. ”Meski ada ancaman dari imperialis Amerika dan kelompok kanan Indonesia, kabinet Amir Sjarifoeddin pasti bisa bertahan,” kata Musso. Celakanya, pada 23 Januari itu juga kabinet Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin bubar, dan digantikan kabinet Hatta. Esoknya, Departemen Kebijakan Luar Negeri AUCP (B) mendapat laporan dari dua pejabatnya yang mengomentari ”Catatan Musso”. Keduanya mengecam keras analisis Musso, yang terbukti tidak akurat. Mereka juga mengkritik taktik dan strategi PKI, yang mereka anggap salah tapi dibenarkan oleh Musso. Situasi Indonesia dianggap mengkhawatirkan, sehingga dianggap perlu dilaporkan kepada pemimpin Soviet tertinggi. Maka, pada 18 Februari, sebuah laporan berjudul ”Situasi di Indonesia setelah Penandatanganan Persetujuan Belanda-Indonesia pada 17 Januari 1948” diserahkan kepada para anggota Politbiro Komite Sentral AUCP (B), seperti Stalin dan Molotov. Laporan yang ditulis oleh Kepala Seksi Asia Tenggara Departemen Luar Negeri AUCP (B) Plishevsky berisi kritik dan analisis kesalahan PKI, antara lain mengakibatkan peralihan kekuasaan di Indonesia ke partai kanan. Di situ juga diuraikan analisis Musso pada 23 Januari yang ternyata tidak tepat. Karena laporan itulah Musso harus ke Indonesia untuk mengubah strategi dan taktik PKI. Sebelum ke Indonesia, Musso mampir ke Praha dan tinggal beberapa pekan. Arsip-arsip yang diteliti Efinova mengungkapkan Musso cukup lama mempersiapkan rencana perubahan itu. Namun, ternyata ia sangat terpengaruh doktrin dan pengalaman partai komunis di Cina, Belanda, dan Cekoslovakia, yang tidak secara kaku menerapkan komunisme ala Soviet. Dari Praha, Musso bertemu dan berunding dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Belanda Paul de Groot bersama Soeripno. Dari Praha pula Musso mengirimkan beberapa laporan kepada AUCP (B). Dalam laporan tertanggal 4 Mei 1948, yang berjudul ”Garis Besar dari Tugas Komunis di Indonesia”, Musso menguraikan konsep perlu disatukannya gerakan kiri di Indonesia di bawah PKI. Jadi, mengapa Musso pulang ke Indonesia? Kecaman terhadap Musso dari para pejabat AUCP (B) membuat Musso merasa bersalah dan kehilangan muka, hingga memutuskan untuk mengubah strategi PKI, yang dituangkannya dalam konsep ”Jalan Baru untuk Republik Indonesia”. Musso yakin hanya dia yang mampu merealisasi konsepnya tadi. Maka ia pun kembali ke Indonesia pada 11 Agustus 1948. Ternyata Musso salah: PKI belum siap mengambil alih kekuasaan, dan terlalu meremehkan popularitas Soekarno-Hatta. Tatkala Soekarno menawarkan kepada rakyat untuk memilih Soekarno-Hatta atawa Musso, rakyat memilih Soekarno-Hatta. Dalam waktu kurang dari tiga bulan, pemberontakan yang dipimpin Musso ditumpas. Pasukan PKI tercerai-berai para pemimpin PKI diburu dan dibunuh. Musso tertembak mati pada pertempuran kecil, 31 Oktober 1948. |
dimuat oleh koyyak @ 07:15  |
|
|
|
| Sabtu, 27 September 2008 |
| Setelah Bercinta, Dia Langsung... |
Jumat, 26 September 2008 | 16:55 WIB "Idealnya, sikap romantis tetap dijaga setelah bercinta. Kalau tidak, seperti ini nih ceritanya...sungguh menyebalkan"
KOMENTAR ISTRI
BALIK BADAN, LANGSUNG TIDUR
Ruri - Bandung : "Jujur saja, sehabis ML aku ingin suamiku menciumi sekujur tubuhku. Ngebayanginnya asyik dan sungguh romantis. Apalagi kalau sambil mengenang kembali pengalaman semasa pacaran dulu. Duh, rasanya gimana gitu. Tapi harapan tinggal harapan karena seringnya enggak pernah kesampaian. Gimana mau terealisasi kalau suami langsung balik badan, trus langsung pulas. Tampangnya cuek banget mentang-mentang sudah terpuaskan. Aku dibiarkan bengong menatap punggungnya. Teguranku sama sekali enggak digubrisnya. Sebel banget kan?"
CARI-CARI REMOTE CONTROL TV
Eva - Bogor : "Suamiku hobi banget nonton Liga Inggris di salah satu stasiun teve. Hampir tiap malam Sabtu atau Minggu matanya tak pernah berkedip nonton acara siaran langsung Premier League. Di situlah masalahnya. Soalnya, kadang waktu kami untuk berduaan bentrok dengan tayangan tersebut. Pernah, lo, saking tidak ingin ketinggalan nonton gol-gol indah yang dicetak bintang pujaannya, sehabis berhubungan ia bergegas pake baju dan cari-cari remote teve. Setelah ketemu, dia langsung nonton sepakbola sampai lupa istrinya masih menunggu di dalam, menunggu kecupan dan belaiannya. Bagi suami, sepakbola adalah istri keduanya. Saya hanya bisa menggerutu dalam kamar, 'Awas, kalau minta lagi, enggak bakalan dikasih!'"
NGOMONGIN URUSAN KANTOR
Turi - Bekasi : "Kisah-kisah cinta atau romantis tampaknya cocok diutarakan seusai bercinta. Dengan begitu, kami bisa saling lebih memahami dan mencintai satu sama lain. Kami juga bisa mengetahui apa keinginan pasangan. Cinta pun bisa tetap bertahan, bahkan semakin bergelora. Kadang, mungkin karena kesibukan suami di kantor, kami sering melewatkan aktivitas tersebut. Tak jarang kepuasan bercinta yang kami peroleh sebelumnya, mendadak sirna bak panas setahun disiram hujan sehari. Penyebabnya apalagi kalau bukan kebiasaan suami yang sering bercerita tentang teman-teman kantor yang usil atau rekan bisnisnya yang tak becus. Kalau sudah begitu, aku langsung menutup mata dan pura-pura tidur."
NGELOYOR KE LUAR KAMAR LALU NGEROKOK
Sandi Jakarta : "Bersuamikan perokok berat memang gampang-gampang susah. Mulutnya terus-menerus mengepulkan asap rokok. Orang-orang di sekitarnya menjadi terganggu. Yang lebih menyebalkan kalau kebiasaan ini juga tetap berjalan sesaat sehabis berhubungan. Bukannya mendekap atau menciumiku, dia malah langsung berpakaian lalu ngeloyor ke luar kamar dan merokok. Sementara aku dibiarkan sendirian di kamar ditemani nyamuk-nyamuk."
MAIN GITAR DI LUAR RUMAH
Puji Jakarta : "Paling sebal kalau sehabis ML suamiku nyuekin aku. Jangankan memeluk, mengatakan 'I love you', yang gampang dan singkat pun tidak. Ia langsung bergegas ambil gitar dan mendendangkan lagu-lagu kesayangannya di luar rumah. Coba kalau lirik-lirik cinta itu diungkapkan sehabis bercinta, betapa senangnya aku. Batinku menggerutu, 'Ya sudah, kawini saja gitar bututmu itu!'"
ASYIK MANDI SENDIRI
Saraswati Tangerang : "Kayaknya romantis banget kalau sehabis berhubungan lalu mandi bersama. Satu sama lain bisa saling menyentuh, meraba, dan saling membersihkan. Ya kadang ini bisa terwujud, tapi lebih sering tidak. Suamiku lebih sering langsung ngeloyor, masak air hangat dan mandi sendiri. Setelah itu tidur pulas tanpa memedulikanku. Duh, sebalnya!"
KOMENTAR SUAMI
KENTUT SEMBARANGAN
Feri Jakarta : "Bercinta kadang tak cukup satu ronde, tapi perlu berlanjut dengan ronde berikutnya. Sayang, keinginan ini kadang tidak bisa terwujud. Salah satu alasannya, sikap istri yang membuat saya jadi kehilangan gairah, seperti kentut atau bersendawa sembarangan. Mungkin karena beberapa puluh menit tanpa busana membuatnya masuk angin. Tapi apa iya tidak bisa ditahan sebentar atau ke luar kamar dulu? Kalau sudah begitu, mau enggak mau cukupkan sampai di situ saja."
LANGSUNG PAKAI BAJU TIDUR
Budi Bekasi : "Wah, asyik kalau sehabis berhubungan masih saling mencium atau memeluk satu sama lain. Sayangnya, keinginan seperti ini sering enggak kesampaian karena istriku tergolong cuek. Kalau sudah selesai, ya sudah selesai begitu saja, langsung pakai baju tidur trus tertidur pulas. Sama sekali enggak ada basa-basi atau cerita romantis. Enggak asyik kan?"
MENCARI-CARI BAJU DAN DALEMAN
Agam Bandung : "Sebenarnya aku tidak terlalu menuntut istri bersikap istimewa sehabis berhubungan, seperti menciumi, bercerita romantis, atau memberi pelukan. Tapi tolong jangan membuatku kesal. Sehabis berhubungan intim, ia lebih suka sibuk cari-cari pakaian dalam, bolak-balikin badan, nyingkirin selimut sambil nyerocos. Duh, bisa tenang sedikit enggak, sih?"
PURA-PURA MEDITASI
Abdi Depok : "Istriku suka bertingkah lucu. Mentang-mentang belajar yoga dan meditasi, dia langsung ingin mempraktikkannya sehabis bercinta. Katanya biar relaks dan tenang, aku disarankan melakukan meditasi. Dia menyuruhku ambil posisi duduk dan dengan tangan diletakkan di antara kedua kaki dan mata dipejamkan. Mirip orang semedi. Dia pun memberi instruksi untuk menahan atau menghirup napas. Mula-mula aku bisa bertahan, tapi lama-lama tidak kuat karena instruksi tidak datang. Saat kupicingkan mata, ternyata istriku sudah tertidur. Bukannya tenang, aku malah kesal dibuatnya."
REPOT NGURUS SI KECIL
Uda Bogor : "Punya anak kecil memang merepotkan, bahkan bisa mengganggu acara bercinta. Saat kami masih asyik berpelukan dan bercerita romantis, tiba-tiba suara tangisnya mengusik kami sehingga harus buru-buru berpakaian. Aku takut si kecil melihat kami berdua tanpa busana. Repotnya lagi, istriku suka lupa suaminya juga masih membutuhkan kasih sayang. Lalu karena sibuk mengurus si kecil, aku jadi dibiarkan melamun sendiri di kamar tidur."
CERITA KERUWETAN DI RUMAH
Doni - Bogor : "Siapa yang enggak sebal sih kalau sehabis bercinta disuguhi cerita mengenai ruwetnya pekerjaan rumah. Yang anak sakitlah, tagihan telepon membengkak, atau arisan yang belum dibayar. Kalau sudah begitu, aku lebih suka menutup mata dan telinga sambil berkata 'iya..iya' Untunglah, pengalaman ini tidak sering terjadi."
sumber: www.kompas.com |
dimuat oleh koyyak @ 01:19  |
|
|
|
| Minggu, 21 September 2008 |
| Mari Berhitung; Pertahankan Lahan atau Hidup Melarat |
Pembukaan perkebunan besar sawit diberbagai daerah dalam beberapa tahun terkahir ini telah sangat nyata belum, bahkan tidak memberikan keuntungan nyata pada masyarakat sekitar ; yang lahan, kebun, tanah, sungai, hutan dan hajat hidupnya dihancurkan. Sebuah perkebunan sawit dengan sangat pintar tetapi licik telah mengeluarkan propaganda bahwa sawit menguntungkan secara ekonomis, padahal sebetulnya sawit akan menciptakan ketergantungan kepada kapitalis yang menjajah masyarakat adat lokal secara ekonomi. Dengan hilangnya tanah dan sumber agraria dan rusaknya sungai-sungai serta kebun, maka kemudian masyarakat menjadi kehilangan mata pencarian, yang selanjutnya terpaksa berlaku seperti pengemis meminta-minta pekerjaan kepada perusahaan perkebunan sawit. Celakanya, dengan orientasi bisnis, perkebunan hanya akan mau mempekerjakan masyarakat lokal pada pekerjaan kasar dan upah yang murah dengan berbagai alasan, seperti kualitas SDM yang dimiliki masyarakat lemah dan stigmasi masyarakat lokal pemalas. Sementara dengan menjadi buruh perkebunan sawit, seluruh waktu tersita untuk bekerja di kebun sawit, sehingga untuk bekerja lain sebagai tambahan penghasilan hampir tidak mungkin. Belum lagi juga ada masalah dengan hilangnya lahan kebun, areal pertanian, sungai dan danau untuk mencari ikan, dan pencemaran akibat limbah sawit yang menimbulkan bau dan penyakit. Lugasnya dapat dikatakan bahwa dengan membiarkan dan memberikan kesempatan perkebunan sawit membuka lahan arealnya di daerah yang selama ini dikelola masyarakat adat akan menimbulkan akibat, antara lain ; - Hutan sebagai sumber penghasilan berupa binatang buruan, tumbuhan obat, rotan hutan, tempat bermukimnya hama pengganggu (yang bila hutannya habis akan membinasakan tanaman masyarakat, misalnya belalang, babi, kera) dan penyedia udara bersih akan hilang.
- Kebun dan lahan pertanian sistem lokal akan hilang akibat digusur dan berganti dengan hamparan sawit, akibatnya masyarakat tidak dapat lagi menghasilkan beras sendiri dan tergantung dengan beras dari luar yang harganya tinggi. Selain beras juga akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh sumber hayati berupa sayuran, buah-buahan dan sumber nabati lainnya. Semuanya harus dibeli dengan harga tinggi.
- Masyarakat tidak akan mempunyai lahan lagi karena sudah diambil oleh perkebunan, dimasa datang tanah-tanah hanya akan dikuasi oleh segelintir orang berduit saja dan rakyat akan menjadi buruh selamanya sampai keanak-cucu.
- Limbah sawit sejak pembukaan lahan yang menyebabkan kekeruhan sungai-danau dan penutupan banyak anak sungai mengakibatkan terganggunya habitat kehidupan ikan sungai-danau. Penghasilan dari mencari ikan menjadi menurun bahkan hilang sama sekali karena tempat hidupnya rusak. Ditambah lagi apabila pabrik sawit telah berproduksi maka akan mengeluarkan limbah yang bagaimanapun juga pasti pada akhirnya akan mengalir ke sungai-danau dan menyebabkan gangguan pada air yang menjadi tempat hidup ikan dan sumber air minum dan MCK manusia.
Kalau mau membandingkan secara kasar saja perolehan penghasilan secara ekonomi antara bekerja sebagai buruh perkebunan sawit dalam artian menyerahkan lahan, hutan dan tanah untuk sawit dengan mempertahankan tahan, hutan dan lahan untuk dikelola dengan sistem lokal yang selama ini terbukti dapat bertahan terhadap badai krisis dan tidak terpengaruh dolar, maka dapat digambarkan secara sederhana seperti berikut ; Menyerahkan Tanah Untuk Sawit : - Hutan hancur, satwa pemangsa hama (belalang, tikus) hilang dan menyerang ladang, mencari kayu untuk rumah dan keperluan lainnya tidak bisa
- Tanaman yang ada mono-culture (seragam)
- Tanah menjadi milik perusahaan, anak cucu tidak punya warisan tempat mencari nafkah
- Terjadi konflik kepemilikan lahan akibat penggusuran oleh perusahaan
- Terjadi pencemaran akibat limbah pabrik
- Bekerja sebagai buruh upah
Mengelola Tanah Sendiri - Hutan masih lestari, satwa pemangsa hama seperti ular dan elang masih dapat memangsa tikus dan belalang, mencari kayu untuk keperluan rumah tangga mudah
- Tanaman yang ada beranekaragam
- Tanah masih menjadi milik sendiri, anak-cucu mempunyai harapan masa depan
- Pengelolaan lahan secara komunal dan sistem kekeluargaan
- Tidak ada pencemaran akibat limbah
- Bekerja sebagai pemilik usaha sendiri
Kemudian, jika mau berhitung perbandingan pendapatan antara menjadi buruh perkebunan sawit dan mengelola tanah sendiri untuk usaha, kira-kira dapat diperoleh hitungan berikut :
Menyerahkan Tanah Untuk Sawit ; - Gaji sebagai buruh perkebunan dengan suami istri bekerja adalah Rp. 17.500,-/orang/hari. Dalam satu tahun pengasilan yang diperoleh adalah sebesar Rp.17.500,- X 2 orang X 365 hari = Rp.12.775.000,
- Pengeluaran setiap bulan untuk menghidupi keluarga (membeli beras, membeli ikan, membeli sayur, sekolah anak, transportasi, hiburan dll) diperkirakan adalah sebesar Rp. 750.000,-. Total pengeluaran dalam setahun adalah Rp. 750.000,- X 12 = Rp. 9.000.000,-
- Hasil bersih yang di dapat adalah Rp.12.775.000,-(-) Rp. 9.000.000,- = Rp. 3.775.000,- dalam setahun bekerja penuh tanpa henti (365 hari)
Mengelola Tanah Sendiri; - Bertani padi lokal yang dikerjakan selama 8 bulan sejak membuka lahan sampai selesai panen. Sekali panen dapat mengasilkan padi sebanyak 2 koyan (1 kojan=1000 gantang) atau 4 ton padi. Harga jual padi adalah Rp. 4.000,-/gantang. Hasilnya sebesar Rp. 8.000.000,
- Sementara menunggu, antara proses menugal sampai proses memagar ada masa selama 2 bulan yang dapat digunakan untuk bekerja mencari ikan atau mencari rotan dihutan atau bertukang dengan hasil sebesar Rp. 25.000,- sd. 30.000,-/hari (Rp.750.000,- sd. 900.000 sebulan).
- Jeda waktu ini juga ada pada saat sesudah memagar dan sesudah panen sambil menunggu musim menabas selanjutnya. Total jeda ini adalah sebanyak 4 bulan. Perhitungannya 4 bulan X Rp. 750.000,- (sd. Rp. 900.000,-) = Rp. 3 juta sd. Rp.3,2 juta
- Hasil keseluruhan adalah Rp. 8 juta + 3 juta = Rp. 11 juta.q Pengeluaran sebagai modal usaha tani dan sampingan Rp. 3 jutaq Pengeluaran keluarga sekitar Rp. 300.000,- / bulan (sangat rendah karena sayur, ikan dan beras tidak membeli)q Hasil bersih setahun adalah Rp. 11.000.000,00 - Rp. 3.000.000,00 - (12 X Rp. 300.000,00) = Rp. 4.400.000,-
Dengan melihat tabel diatas, jelas kelihatan bahwa penghasilan dengan menjadi buruh pabrik sawit yang bergaji Rp. 17.500,-/hari dan bekerja berdua (suami isteri) ternyata dalam setahun hanya menghasilkan perolehan bersih sekitar Rp. 3.775.000,-. Berbeda dengan mengerjakan usaha-usaha sistem lokal (berladang, mencari ikan atau mencari rotan atau bertukang) hasil yang diperoleh dalam setahun adalah sebesar Rp. 4.400.000,- Melihat perhitungan diatas sekarang kita tinggal memilih : - Mempertahankan tanah-tanah hak adat dan hak milik dan dapat dimanfaatkan juga oleh generasi anak-cucu kita, atau ;
- Menyerahkannya kepada perusahaan perkebunan sawit dan kita akan kehilangan sumber usaha selamanya serta dihujat oleh generasi anak-cucu kita karena mereka tidak memiliki lagi tanah-tanah dan sumberdaya alam yang kita pinjam dari mereka. [dins]
Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi: Satriadi Direktur Eksekutif WALHI Kalimantan Tengah Email Satriadi Telepon kantor: +62-0536-22882 Mobile:
Tanggal Buat: 03 Jul 2004 | Tanggal Update: 03 Jul 2004 |
dimuat oleh koyyak @ 09:37  |
|
|
|
|
| RSPO = Penjajahan Model Baru |
Beberapa tahun terakhir ini perkebunan kelapa sawit terus menerus didera oleh tekanan dari kalangan LSM dan perusahaan di Eropa. Peranan perkebunan kelapa sawit dalam menghasilkan minyak yang sangat dibutuhkan oleh milyaran penduduk dunia serta sumbangsihnya dalam membangkitkan perekonomian lokal bahkan nasional, oleh kalangan LSM dan perusahaan di Eropa dihadapkan dengan berbagai isu yang sangat merugikan seperti: perusakan dan pemusnahan hutan, perusakan dan pencemaran lingkungan hidup, pemusnahan keanekaragaman hayati (biodiversity) dan punahnya berbagai flora serta fauna yang dilindungi, hingga perampasan hak-hak penduduk lokal. Kalangan itu melakukan berbagai upaya, dari kampanye hitam hingga membuat konsep serta menggalang kekuatan pasar untuk mengendalikan negara, bangsa dan perusahaan perkebunan penghasil minyak sawit.
(Baca: SEKILAS SUSTAINABLE PALM OIL) Perusahaan perkebunan kelapa sawit tentu saja bereaksi atas tekanan itu. Malaysia misalnya, dengan gencar mengkampanyekan keunggulan produknya serta kelebihan mereka dalam cara berproduksi di perkebunan maupun di pabrik untuk menghasilkan minyak sawit, bahkan membuka kantor khusus untuk promosi dan pemasaran CPO di Eropa. Dalam pada itu Malaysia juga aktif melakukan berbagai pembenahan di lapangan menyesuaikan diri dengan berbagai prinsip dan kriteria yang dipersyaratkan oleh kalangan dari Eropa. Indonesia juga bereaksi terhadap tekanan, namun tidak seperti Malaysia yang menyatu dan total, perusahaan perkebunan di Indonesia kelihatannya lebih memilih taktik gerilya sebagaimana cara berjuang merebut kemerdekaan dahulu kala.
Sustainable Palm Oil / SPO atau minyak sawit lestari adalah suatu konsep yang dimunculkan oleh kalangan LSM di Eropa pada tahun 2001, dipelopori oleh WWF (World Wildlife Fund adalah LSM yang memusatkan perhatian pada kelestarian keaneka ragaman hayati). WWF menganggap perkebunan kelapa sawit paling bertanggung jawab terhadap kerusakan bahkan hilangnya sebagian besar hutan tropis serta musnahnya keanekaragaman hayati dalam skala luas, khususnya di Indonesia dan Malaysia. Di berbagai forum internasional, WWF lalu mengkampanyekan kerusakan lingkungan, punahnya berbagai jenis flora dan fauna, seraya mengarahkan telunjuknya pada perkebunan kelapa sawit sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.Tidak tanggung-tanggung, mereka pun melakukan kampanye hitam (black champaign) terhadap minyak sawit di pasaran Eropa dengan kalimat provokatif di media cetak dan elektronik seperti: “Membeli Minyak Sawit Berarti Membiayai Perusakan Hutan Tropis” (pada poster / layar ditampilkan foto minyak goreng dalam berbagai merek dan kemasan dengan latar belakang hutan yang rusak, lahan yang terbakar dan masih berasap) atau “Tahukah Anda, Makanan yang Lezat ini Dibuat Dengan Mengorbankan Flora dan Fauna serta Hutan Tropis ?” (pada poster/layar ditampilkan foto berbagai makanan lezat yang menggunakan shortening berbahan dasar minyak sawit seperti: Kue, Taart, Es Krim disandingkan dengan foto bangkai gajah dan harimau dengan latar belakang hutan yang rusak, disertai dengan penjelasan bahwa shortening yang digunakan sebagai bahan pembuat makanan itu dihasilkan oleh perkebunan yang merusak lingkungan, membantai hewan yang dilindungi dan memusnahkan flora yang langka, menghilangkan paru-paru bumi). Masih banyak model kampanye lainnya, dilakukan pada berbagai kesempatan dan tempat, mulai dari pinggir jalan hingga ke televisi bahkan di berbagai seminar atau pertemuan internasional yang bertujuan mempengaruhi masyarakat luas agar tidak membeli produk minyak sawit yang dihasilkan secara tidak bertanggung jawab dan menghasilkan dampak yang merugikan bagi lingkungan hidup dan lingkungan sosial. Tidak hanya melakukan kampanye hitam, WWF kemudian berupaya lebih jauh dengan memanfaatkan posisi strategis Eropa sebagai konsumen CPO terbesar ketiga di dunia, dengan jumlah konsumsi yang meningkat (terlebih dengan lahirnya peluang pasar baru untuk BioDiesel). Pada tahun 2001 WWF menggandeng Proforest (LSM yang memusatkan perhatiannya pada kelestarian hutan–berkedudukan di Inggeris) sekaligus menggalang beberapa perusahaan pembeli CPO (Unilever sebagai pionir) dan perusahaan perbankan (Rabobank sebagai pionir). Proforest dilibatkan untuk menyusun serangkaian aturan (diistilahkan dengan “Prinsip” dan “Kriteria”) yang akan dipersyaratkan penerapannya oleh perkebunan kelapa sawit yang mengekspor CPO ke Eropa. Keterlibatan perusahaan pembeli CPO (Unilever, Migros, dll) dan Perbankan (Rabobank, ABN AMRO, HSBC) adalah untuk membiayai usaha penyusunan “Prinsip” dan “Kriteria” itu sekaligus untuk membangun organisasi yang berpengaruh, yang bisa menekan perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk menerapkan “Prinsip” dan “Kriteria” yang mereka susun. Bersama-sama mereka lalu membentuk organisasi yang khusus mengurus SPO, yang kemudian diberi nama Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), diawali dengan pembentukan Panitia Pelaksana pada tahun 2002, disusul dengan pendirian organisasi RSPO pada RSPO-RT1 di Kuala Lumpur pada tahun 2003, penetapan pejabat organisasi RSPO pada RSPO-RT2 di Jakarta pada tahun 2004, penandatanganan kesepakatan Prinsip dan Kriteria SPO pada RSPO-RT3 di Singapura pada tahun 2005. Pada tahun 2006 RSPO merencanakan menyiapkan panduan tentang Prinsip dan Kriteria SPO. Pada awalnya konsep SPO yang disusun oleh Proforest sarat memuat berbagai “Prinsip” dan “Kriteria” untuk diterapkan di perkebunan kelapa sawit. Namun setelah berproses selama 3 tahun, saat ini Prinsip SPO terdiri dari: Prinsip berkomitmen pada transparansi; Prinsip menaati hukum dan peraturan; Prinsip berkomitmen pada keberlangsungan ekonomi dan keuangan dalam jangka panjang; Prinsip penerapan “Best Practises” oleh perkebunan dan pabrik; Prinsip bertanggung jawab terhadap lingkungan dan melakukan konservasi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati; Prinsip bertanggung jawab pada karyawan, individu dan masyarakat yang dipengaruhi oleh keberadaan perkebunan dan pabrik; Prinsip bertanggung jawab dalam pembangunan perkebunan baru; Prinsip berkomitmen pada perbaikan yang berkelanjutan di wilayah operasinya. Jika membaca sekilas maka terkesan betapa “Prinsip” itu adalah hal-hal yang baik untuk dilaksanakan, namun demikian ternyata rangkaian butir-butir “Kriteria” yang terdapat pada masing-masing “Prinsip” itu telah menimbulkan perdebatan yang alot dan panjang pada setiap pertemuan pembahasannya, karena munculnya reaksi penolakan dari kalangan perusahaan perkebunan. Mayoritas perusahaan perkebunan di Indonesia misalnya, berpandangan bahwa “Prinsip” dan “Kriteria” itu disusun tanpa memperhatikan situasi objektif di Indonesia dimana: hukum belum tegak, terdapat ekonomi biaya tinggi, kemiskinan penduduk, sehingga dengan demikian maka “Prinsip” dan “Kriteria” itu menjadi teramat sangat sulit untuk dapat diterapkan. Selain itu, penerapan beberapa “Prinsip” dan pemenuhan beberapa “Kriteria” juga menimbulkan konsekuensi berupa biaya yang sangat mahal sehingga dikhawatirkan harga CPO menjadi tidak kompetitif di pasar internasional. Kritik pun muncul, menganggap SPO adalah modus baru para pesaing (terutama produsen minyak kedelai / soya) untuk menekan pertumbuhan bisnis minyak sawit yang telah mengambil alih sebagian pasar mereka yang dahulu sangat gemuk. Tudingan WWF terhadap perkebunan kelapa sawit sebagai perusak hutan dianggap tidak berdasar karena kenyataannya penyebab utama kerusakan hutan adalah praktek pembalakan liar (illegal logging), industri kayu dan industri kertas. Sekalipun monokultur, perkebunan kelapa sawit memiliki andil mengurangi kerusakan alam sekaligus memasok oksigen ke atmosfir dalam kuantitas 8 kali lebih besar dibandingkan jumlah oksigen yang dihasilkan oleh soya. Dalam produktivitas, minyak sawit pun jauh lebih efisien dibandingkan dengan soya termasuk dalam penggunaan lahan. Kritik ini masih mengemuka sekalipun WWF kemudian melahirkan program serupa untuk minyak kedelai bernama: Sustainable Soya Oil dan Roundtable on Sustainable Soya Oil. Pandangan yang lebih radikal menganggap SPO adalah penjajahan model baru dengan motif keuntungan ekonomi, dilakukan oleh negara-negara utara terhadap negara-negara selatan. RSPO dianggap sebagai bagian dari agenda neo liberalisme yang telah dipraktekkan oleh negara-negara utara dalam rangka mengendalikan untuk kemudian menghisap negara-negara selatan, sebagaimana telah mereka lakukan melalui Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization / WTO). Berbeda dengan penjajahan model lama, penjajahan sekarang ini dilakukan oleh pasukan yang terdiri dari LSM dan perusahaan-perusahaan raksasa bersenjatakan “Prinsip” dan “Kriteria” serta “Sertifikasi” (RSPO sudah merencanakan penerbitan Sertifikat). Semua itu dikemas rapi dalam suatu ide besar dengan judul bagus: Sustainable Development (Pembangunan yang Berkelanjutan) dengan 3 pilarnya: People-Profit-Plane t (3P). Tentang 3P, para pembaca yang menyukai sejarah mungkin ada yang teringat dengan istilah yang berkumandang di Eropa sekitar 500 tahun silam: 3G (Gospel-Gold-Glory), sedemikian bagusnya namun ternyata telah merubah kemegahan sejarah berbagai bangsa di timur yang kemudian terperosok ke dalam penjajahan kelam selama ratusan tahun kemudian. Negeri kepulauan Indonesia yang sebelumnya telah mencapai taraf kemakmuran dan kebudayaan yang tinggi melalui 2 kerajaan besar di Asia: Sriwijaya Majapahit dan ratusan kerajaan lainnya tersebar di seantero Nusantara pun kemudian harus mengenyam sejarah pahit karena terseret oleh penjajahan, yang sisanya bahkan masih terasa hingga sekarang dalam wujud kemisikinan fisik maupun mental. Harga dan penjualan CPO konon kabarnya akan dipengaruhi oleh sertifikasi RSPO, dengan imingiming bahwa produk bersertifikat “Sustainable Palm Oil” akan lebih disukai dan dihargai oleh pasar. Jika ingin mendapatkan sertifikat itu maka perusahaan perkebunan terlebih dahulu harus menerapkan “Prinsip” dan “Kriteria” SPO. RSPO kemudian akan melakukan audit atas penerapan “Prinsip” dan “Kriteria” sebelum menerbitkan sertifikat SPO untuk suatu produk CPO. Tentu saja seluruh biaya penerbitan sertifikat menjadi beban perusahaan perkebunan, termasuk biaya keanggotaan RSPO dan pelatihan-pelatihan yang akan mereka adakan. Minyak sawit memang sangat menggiurkan, terutama pada masa sekarang dengan adanya peluang menjadikannya sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan. Selain itu masih teramat banyak produk turunan yang dapat dihasilkan dari minyak sawit. Karena nilainya yang tinggi, komoditi ini sering disamakan dengan emas. Namun entah mengapa, kelapa sawit tidak bisa tumbuh di sembarang tempat di muka bumi ini seperti di Eropa misalnya. Bahkan pada wilayah sekitar khatulistiwa pun hanya beberapa daratan pada lingkup lintang tertentu saja yang cocok untuk budidaya kelapa sawit secara ekonomis, itupun masih terdapat berbagai persyaratan lainnya meliputi kelas tanah, topografi dan iklim. Indonesia diberkati dengan banyaknya daratan yang sangat cocok untuk budidaya kelapa sawit, barangkali yang terluas di dunia. Semogalah kita mampu mempertahankannya, dengan disemangati oleh kegigihan para pahlawan yang dahulu berjuang merebutnya dari tangan para penjajah
Materi presentasi dan Annual Report AAL tahun 2004 yang dibawa khusus untuk acara ini pun segera diborong peserta tidak lama setelah Mrs. Marieke Leegwater menyajikannya pada meja khusus. Materi presentasi itu terdiri atas 3 bagian: Tinjauan Sejarah, Implementasi CD AAL dan Corporate Profile. Tinjauan sejarah memuat cuplikan sejarah, dimulai sejak era Penjelajahan dengan tokohnya: Cornelis de Houtman, era Monopoli dengan tokohnya: Jan Pieterszoon Coen, era Kolonial dengan tokohnya: Herman Willem Daendels, era Sistem Pajak Tanah dengan tokohnya: Thomas Stamford Raffles dan era Tanam Paksa dengan tokohnya: Johannes Graaf van den Bosch. Penampilan setiap tokoh disertai dengan foto diri masing-masing dan dilengkapi dengan catatan kejahatan terhadap kemanusiaan yang mereka lakukan selama berada di Indonesia. Cornelis de Houtman misalnya, tercatat melakukan kecurangan terhadap Sultan hingga diusir dari Banten lalu melakukan pemerkosaan dan pembunuhan penduduk sipil di Madura. Sedangkan Jan Pieterszoon Coen tercatat melakukan pembantaian massal (genocide) penduduk di pulau Banda dan dikenal karena kebengisannya, yang paling bengis diantara Gubernur Jenderal lainnya pada masa itu. Herman Willem Daendels adalah Gubernur Jenderal yang membangun jalan sepanjang pulau Jawa dengan tulang belulang, darah dan air mata ratusan ribu manusia korban kerja paksa. Johannes Graaf van den Bosch yang dengan sistem tanam paksa membuat penduduk pulau Jawa hidup melarat. Pengecualian secara sengaja ditampilkan melalui sosok Thomas Stamford Raffles, seorang Gubernur Jenderal Inggeris yang justru menghapuskan sistem tanam paksa, menerapkan sistem pemerintahan semi desentralisasi sekaligus mengembalikan kekuasaan para raja yang sebelumnya ditiadakan oleh Daendels, hingga memimpin ekspedisi penemuan dan pembangunan kembali candi Borobudur dan berbagai candi lainnya. Semua ini ditampilkan untuk mengingatkan pihak Belanda akan tanggung jawab moral historisnya. |
dimuat oleh koyyak @ 09:33  |
|
|
|
|
| Bupati Sambas Luluskan Permintaan Rakyat: Cabut Izin Perusahaan Sawit |
| Jakarta,- Bupati Sambas, Kalbar, Burhanudin A Rasyid, meluluskan tuntutan masyarakat petani yang meminta pencabutan izin perusahaan sawit di daerah tersebut.
“Dua perusahaan yang dicabut izinnya tersebut melakukan land clearing dan pembibitan diatas kebun karet masyarakat dan hutan buah yang menjadi mata pencaharian masyarakat sehari-hari, tanpa izin dari masyarakat,” ungkap Lely Chairnur, Direktur Gemawan, lembaga non pemerintah, yang memperjuangkan hak masyarakat kecil. Dua perusahaan tersebut adalah PT SAM (Sentosa Asih Makmur) dan HTI PT BMH (Bumi Mekar Hijau).
Sebelumnya, sekitar 2500 massa, pada 24 Juni lalu, melakukan aksi yang dipusatkan di kantor DPRD Kabupaten Sambas. Para petani dan pekebun karet ini berorasi untuk menyatakan sikap dan penolakan mereka terhadap masuknya perkebunan sawit skala besar dan perusahaan HTI di desa-desa mereka . Massa yang terdiri dari 5 kecamatan ini yakni; Sejangkung, Jawai, Galing, Teluk Keramat dan Selakau.
Pemerintah Kabupaten Sambas diminta untuk mengembalikan kedaulatan petani atas tanah, bukan malah menyerahkan tanah yang ada di Kabupaten Sambas kepada perusahaan perkebunan skala besar.
Masyarakat juga meminta agar pemerintah melakukan tata Ulang Perkebunan Kelapa Sawit lama, Evaluasi seluruh Ijin Usaha Perkebunan yang sudah terlanjur diterbitkan dan Hentikan seluruh aktivitas Perluasan Perkebunan Skala Besar Kelapa Sawit. Dengan kata lain, tidak ada perkebunan skala besar baru di Kabupaten Sambas. Masyarakat yang mengatasnamakan Serikat Tani Serumpun Damai Kabupaten Sambas, juga didukung oleh Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), UPLINK KalBar, AMAN KalBar, Lembaga GEMAWAN, dan Kontak Rakyat Borneo.
Perjuangan itu ternyata membuahkan hasil, Bupati Sambas, kemudian menandatangani surat pernyataan untuk mencabut izin dua perusahaan tersebut. “Surat keputusan akan dibuat Bupati paling lama satu minggu ke depan,” terang Lely.
Lely berpendapat, para bupati di Kalbar, seharusnya mengikuti perkembangan terbaru mengenai kebijakan pusat. Terlebih dengan keberadaan Gubernur Kalbar, Cornelis, sebagai putra daerah. Disebutlan, pada konferensi tingkat tinggi perubahan iklim yang berlangsung tahun lalu di Bali, Menteri Pertanian mengeluarkan secara resmi Surat Edaran ditujukan kepada gubernur seluruh propinsi di Indonesia agar tidak menerbitkan ijin baru untuk pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di atas ekosistem lahan gambut.
“Namun pemerintah juga cenderung mempunyai sikap mendua, lantaran, di satu sisi mengambil sikap menghentikan perluasan perkebunan kelapa sawit di atas hutan lahan gambut, di sisi lain memberikan dukungan terhadap kemajuan industri kelapa sawit,” kata Lely.
Saat ini, sekitar 48% lahan gambut di Indonesia sudah dirusak, dan sebagian besar pengrusakan disebabkan penebangan hutan liar. Masalah pengrusakan hutan gambut ini merupakan salah satu kehancuran lingkungan terbesar dunia.
Dari kebakaran hutan yang berlangsung setiap tahun, CO2 yang dihasilkan mencapai 1.400 juta ton. Jadi total sekitar 2.000 juta ton CO2 setiap tahunnya dari Indonesia. Sebagai perbandingan, di Negeri Belanda setiap tahunnya menghasilkan 80 juta CO2, walaupun Belanda yang kecil jelas bukan bandingan dengan Indonesia. “Pemimpin di daerah harus punya sikap untuk tidak sekadar mencari keuntungan yang sifatnya temporer, tetapi lebih memikirkan dampak jangka panjang dan dampak terhadap masyarakat,” kata Lely lagi.(lev) |
dimuat oleh koyyak @ 09:16  |
|
|
|
|
| Sawit Tidak Pernah Mungkin Menggantikan Fungsi Ekologi |
Tuduhan Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) terhadap WALHI yang dianggap tidak memiliki data yang akurat tentang dampak dari perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai suatu hal yang menggelikan. Sebagai forum lingkungan terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota lebih dari 400 organisasi di 26 propinsi, WALHI memiliki human resources yang cukup untuk mendokumentasikan segala impak yang ditimbulkan dari pembangunan. WALHI juga tercatat sebagai anggota Friends of the Earth, sebuah organisasi lingkungan yang berada di 40 negara dan membangun jaringan dengan sejumlah institusi penelitian dan ekspert dari berbagai belahan dunia. Untuk itu, WALHI menyarankan agar GPPI ”turun gunung” untuk melihat realitas yang berserakan dilapangan. “Fakta musnahnya cadangan air, biodiversity dan konflik yang tidak terhitung banyaknya tidak bisa dilihat hanya diatas kertas atau berdasarkan laporan staff. Anda harus melihat ke lapangan, membaca lebih banyak media massa dan laporan-laporan yang dikeluarkan berbagai institusi peneliti independen,” ungkap Rully Syumanda, Pengkampanye Hutan WALHI. WALHI juga mengungkapkan musnahnya sejumlah sungai-sungai kecil di Sumatera Utara dan Riau. Kedua propinsi yang terkenal sebagai sentra produksi sawit tersebut kehilangan banyak sungai kecil akibat penanaman sawit di daerah aliran sungai. Sungai Kerumutan di Riau misalnya, semula memiliki lebar 15 meter kini hanya berupa parit dengan lebar tidak lebih dari 1 meter. Di Sumatera Utara, jumlah sungai yang hilang jauh lebih banyak. Sejarah perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara memang jauh lebih dulu dibanding Propinsi lainnya sehingga dampak yang ditimbulkan bisa lebih kasat mata. Sementara itu di kabupaten Pasir, Propinsi Kalimantan Timur, pembangunan kelapa sawit malah mengganggu pasokan PDAM akibat berkurangnya pasokan air tanah. Sawit adalah tanaman yang rakus air. Setiap batangnya menyerap lebih dari 10 liter air perhari. Fakta ini tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Banyak tanaman lain juga mengkonsumsi air dalam jumlah sedemikian banyak namun tidak menimbulkan masalah sebagaimana sawit. Hal ini dikarenakan sawit harus ditanam dalam skala besar. Rata-rata perusahaan membuka 5,000 hektar hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit agar mencapai titik impas dan menghasilkan keuntungan. Hitung-hitungan WALHI menyebutkan bahwa seorang petani baru bisa hidup layak dari sawit apabila memiliki kebun diatas 4 hektar. Dibawah itu kehidupan petani cenderung tidak sejahtera karena biaya input yang dikeluarkan jauh lebih besar dibanding output yang dihasilkan. Dengan luasan dibawah itu, sawit hanya menjadi penyambung hidup bagi petani dengan kondisi yang mengenaskan. Jauh dari slogan yang dibunyikan selama ini bahwa sawit akan menyejahterakan masyarakat. Berapa banyak perusahaan yang menyediakan plasma sebesar 4 hektar per KK? Tidak ada! Rata-rata perusahaan hanya mau menyerahkan 2 hektar lahan kepada petani plasma. Dibeberapa daerah malah masyarakat harus menyerahkan 4 hektar lahannya dan diganti dengan 2 hektar lahan plasma dimana seluruh biaya sarana produksi dihitung sebagai hutang. Skema Ekonomi seperti inilah yang diberlakukan pengusaha sawit di banyak tempat. Sawit pada akhirnya menjebak masyarakat dalam rutinitas kemiskinan. Pemerintah Daerah Riau sendiri mengklaim bahwa 34% masyarakat Riau berada dibawah garis kemiskinan dan sebagian besar diantaranya justru terletak di kantong-kantong perkebunan yang jauh dari kota dan akses informasi. Ini sekaligus membantah klaim GPPI bahwa penanaman kelapa sawit di daerah terpencil akan membuka aktivitas ekonomi masyarakat. Klaim GPPI bahwa sharing kelapa sawit di Kabupaten Sanggau menembus angka 1 trilyun setiap tahunnya juga dianggap WALHI sebagai hal yang sangat menggelikan dan mengada-ngada. “Agak membingungkan maksud dari GPPI dengan menyebutkan angka Rp.1 trilyun dari sharing benefit di Sanggau. Dari mana angka itu berasal? Bagaimana menghitungnya? Kemana distribusi angka tersebut, siapa penerima benefit dari angka tersebut?” lanjut Rully. Hingga tahun 2002 Dirjen Perkebunan mencatat angka produksi CPO senilai 1,692 juta ton pertahun dari 4,116 juta hektar lahan perkebunan kelapa sawit diseluruh Indonesia. Dengan perkiraan harga US$ 370 per ton pada tahun 2002 angka ini baru menembus US$ 5,9 trilyun yang berasal dari seluruh Indonesia, terutama Sumatera Utara dan Riau sebagai sentra utama sawit Indonesia. Sanggau relative baru dalam bisnis ini. Dari mana angka itu berasal? Terkait dengan klaim GPPI bahwa sawit berpotensi menyuburkan tanah dianggap WALHI sebagai satu bentuk kebohongan yang sangat serius. Mustahil kalau GPPI tidak mengetahui bahwa perakaran sawit selebar tajuk daun dan sedemikian kuat sehingga baru akan terurai ditanah setelah 70 tahun. Tidak ada satupun tanaman yang dapat tumbuh tanpa input (pupuk) maksimal diatasnya sampai seluruh akar tersebut terurai kedalam tanah, kecuali tumbuhan paku-pakuan yang usianya telah mencapai jutaan tahun dan merupakan tanaman purba perintis. Pelepah sawit hanya berguna untuk pertumbuhan sawit itu sendiri. Tanpa sawit, tidak ada pelepah, tidak ada kesuburan. Seluruh pelepah tanaman memiliki fungsi yang sama yaitu bisa dipakai untuk meningkatkan kesuburan tanaman induknya. Demikian halnya dengan klaim GPPI yang membandingkan fungsi sawit sebagai buffer oxygen dengan eks HPH. Pemilihan kawasan yang dijadikan perbandingan saja menurut WALHI sudah tidak seimbang. Bagaimana mungkin membandingkan sawit dengan kawasan eks HPH yang telah terdegradasi karena diambil kayunya? Fungsi hutan dan tapak dibawahnya sebagai penyerap karbon tidak akan mungkin bisa tergantikan dengan sawit. Apalagi ketika pembukaan kawasan hutan untuk dijadikan perkebunan sawit dimana terjadi pelepasan jutaan ton karbon ke udara. Ini sangat-sangat menggelikan dimana GPPI menggunakan kedok penyerap karbon untuk komoditi yang menyebabkan terlepasnya jutaan ton karbon ke udara. Kelapa sawit juga tercatat memiliki banyak produk turunan yang selama ini diketahui dapat dikonsumsi manusia seperti margarine, roti, kue-kue kering, pasta gigi, sabun dan banyak lagi. Namun banyak yang tidak diketahui oleh masyarakat bahwa makanan yang terbuat dari minyak sawit juga berpotensi menyebabkan kanker hati. Ellie Brown, Ph.D. dan Michael F. Jacobson, Ph.D, dua peneliti dari Amerika Serikat mengungkapkan bahwa minyak sawit mengandung saturated fat dan low in polyunsaturated fat yang dapat memicu kanker hati dua kali lebih besar dibanding olive, minyak kedelai, canola dan bahkan minyak kelapa. Institute Jantung, Paru dan Darah Nasional Amerika, WHO dan sejumlah institusi kesehatan lainnya juga telah mengeluarkan himbauan untuk mengurangi konsumsi minyak sawit ini. Untuk itu WALHI menyarankan agar memperbaharui sumber datanya tentang fungsi dan kegunaan sawit. Terkait dengan polemik ini WALHI menyarankan agar para pengusaha dan pengurus yang tergabung dalam GPPI untuk lebih membuka diri untuk melihat lebih jauh dampak yang ditimbulkan dari perkebunan kelapa sawit ini dari berbagai sumber terpercaya dan independent. Penelitian yang dilakukan oleh pengusaha atas komoditi yang diusahakan tentunya akan mengaburkan hasil penelitian tersebut. WALHI tidak menolak pembangunan perkebunan apapun sepanjang bisa memberikan kontribusi significan terhadap kesejahteraan masyarakat.Namun WALHI akan menolak dengan keras pembangunan perkebunan yang dilakukan dengan cara dan hasil yang justru semakin memiskinkan masyarakat lokal dimasa sekarang dan dimasa yang akan datang. Paradigma pembangunan kelapa sawit selalu diarahkan pada term seberapa besar kelapa sawit dapat menyumbang bagi perekonomian nasional. Tidak pernah diarahkan pada term bagaimana membangun perkebunan dan industri kelapa sawit yang layak dan sustainable. Apa yang mau ditanam memang penting. Namun yang lebih penting adalah dimana mau ditanam. Sebuah studi komprehensif dibutuhkan untuk membangun perkebunan kelapa sawit di perbatasan dan itu butuh waktu yang cukup lama. Tidak diatas kertas. Sumber : http://palmoilwatch.wordpress.com |
dimuat oleh koyyak @ 09:14  |
|
|
|
|
| |
|
 |
| |
| Koyyak Statement |
|
::KOYYAK:: kumpulan orang-orang yang yakin akan kemampuannya, siapa pun dia, yang membutuhkan rasa, siapapun dia yang membutuhkan cinta, siapapun dia yang membutuhkan nyawa, siapapun dia yang membutuhkan celah, mari kita cari bersama
|
| Koyyak, siapa dia? |
|

Name: koyyak
Koyyak Curhat: saat SMP, saya menyenangi komik Lucky Luke. ia seorang cowboy pujaan saya. di SMP saya, komik ini cukup banyak, saya baca sampai tuntas. Lucky Luke, sorang jagoan yang menembak lebih cepat dari bayangan sendiri. saya terobsesi, saya ingin melawannya. pikiran saya dipenuhi oleh kelebat bayangan Lucky Luke. saya ingin jadi penjahat, ingin mengalahkan si cowboy itu. waktu guru bertanya, ingin jadi apa nanti? spontan saja menjawab: ingin jadi penjahat! guru itu melotot. ia tak tahu, dalam pikiran saya masih berkelebat bacaan favorit itu. setelah saya besar, sebagian teman bilang, saya "penjahat wanita".padahal, sumpah, saya tak pernah "jahat" sama mereka, saya selalu "baik" sama mahluk ini...kacien deh gue...
|
| Koyyak Support |
::Admin::  |
|
| Koyyak Friend |
::Knslt Forex::  |
| Koyyak Post |
|
| Koyyak Arsip |
|
|
| Jeritan Koyyak |
|
| SC Links |
|
|
| Dipersembahkan oleh |
|
(c) koyyak 2008
|
|
|